Tampilkan postingan dengan label F. Wisata Kuningan Jawa Barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label F. Wisata Kuningan Jawa Barat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Sejarah Daerah Awirarangan di Kuningan

Sejarah Daerah Awirarangan
Banyak orang yang memprediksikan bahwa daerah Awirarangan itu berasal dari kata Awirangrangan, namun prediksi itu salah. Awirarangan berasal dari kata Wi dan Larangan. Kata Wi yang berarti Wiwitan (permulaan atau awal) dan kata Larangan yang berarti cegahan atau pantangan. Jadi, di daerah Awirarangan itu banyak sekali larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan, seperti bersiul, meniup seruling, makan sambil jongkok, mengadakan pertunjukan wayang golek dan lain-lain. Apabila warga Awirarangan itu sendiri melanggar larangan-larangan tersebut maka ada berdampak negatif bagi yang melanggarnya.

Menurut cerita, Awirarangan dibuka oleh para Abdi Dalem Prabu Siliwangi yang diantaranya yaitu Eyang Weri Kusuma, Buyut Kentuy, Karanginan, Karang Asem, Singa Merta, Singa Dinata, Buyut Kenayu, Buyut Empang, Eyang Tarik Kolot. Dan yang sekarang kuburan dari merekapun ada yang sebagian berada di wilayah Awirarangan.

Dulu daerah Awirarangan merupakan hutan belantara, dari hutan belantara itu terbentuk perkampungan terpencil yang sedikit-sedikit berubah menjadi pemukiman warga. Untuk menunjang kebutuhan hidup masyarakat atau warganya maka dibentuk sawah, ladang dan perkebunan. Dulu Awirarangan merupakan bagian dari desa Kuningan dan statusnya sebagai kampung atau dusun.

Daerah Awirarangan mengalami 4 kali perubahan batasan wilayah. Yang pertama batasan wilayah Awirarangan yaitu:
Barat : Jalan Siliwangi   
Utara : Lingkungan stadion
Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Winduhaji
Selatan : Lebak Cangkuang

Pada perubahan kedua batasan wilayah Awirarangan jadi menyempit, batas wilayah tersebut yaitu:
Barat : Jalur Pasar Kepuh
Utara : Lebak Kardin
Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Winduhaji
Selatan : Lebak Cangkuang

Pada perubahan ketiga batasan wilayah Awirarangan semakin menyempit dengan batas wilayah yaitu:
Barat : Jalan Ir. H. Juanda
Utara : Lebak Kardin
Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Winduhaji
Selatan : Jl. Sudirman (Serang)

Pada perubahan batasan wilayah yang ketiga, Bojong masuk ke Kampung Cangkuang. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan penduduk, Awirarangan dipisahkan dari Kelurahan Kuningan mulai tanggal 7 Maret 2001 dan Awirarangan menjadi sebuah Kelurahan dengan batas Wilayah:
Barat : Jl. Ir. H. Juanda
Utara : Lebak Kardin
Timur : Berbatasan dengan Winduhaji
Selatan : Bojong (yang kembali masuk ke daerah Awirarangan dan dilepas dari Kampung Cangkuang)

Adat Istiadat Daerah Awirarangan
Dalam perkembangannya Awirarangan termasuk daerah perkotaan sehingga adat yang dimiliki oleh daerah Awirarangannya sendiri sudah mulai terkikis dengan perkembangan zaman dan akibat pengaruh globalisasi kependudukan, sehingga adat istiadat yang sekarang sudah tercampur. Apalagi ada diantaranya yang sudah menghilang dan tidak dikenal lagi oleh generasi-generasi muda sekarang. Adapun adat istiadat Awirarangan yang sudah menghilang diantaranya adalah:
1. Sabumi atau Hajat Sura
Sabumi atau Hajat Sura yaitu berdoa bersama di tanah lapang atau di tempat terbuka untuk memohon  keselamatan. Sabumi atau Hajat Sura ini selalu diadakan setiap menjelang bulan Sura atau Muharram. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda, namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini.

2. Ngujuban atau Hajat Kliwon
Ngujuban atau Hajat Kliwon merupakan permohonan doa oleh pribadi seseorang atau keluarga tertentu yang dilakukan setiap malam jumat kliwon. Selain doa yang dipanjatkan ada juga sesajen yang disediakan untuk dinikmati oleh keluarganya sendiri setelah acara ngujuban itu selesai. Sekarang adat istiadat ini sudah tidak dikenal oleh generasi-generasi muda, namun  hanya orang tua terdahulu yang masih melakukan adat istiadat ini dan orang-orang yang masih memegang kepercayaan tersebut.

3. Muput atau Nebus Weteng
Muput atau Nebus Weteng yaitu pengasapan bagi wanita yang baru melahirkan.

4. Busaran
Busaran yaitu meratakan gigi dengan alat-alat tertentu.

5. Memeongan
Memeongan merupakan adat istiadat yang dilakukan apabila ada seorang adik yang melangkahi kakaknya untuk menikah duluan di dalam satu keluarga.

6. Bobotan
Bobotan dilakukan kepada bayi yang lahir di bulan Safar. Proses bobotan sama seperti proses pertimbangan berat badan bayi, tetapi bobotan ini penimbangan bayi beserta harta benda orang tua. Semakin berat badan bayi semakin banyak pula harta benda yang harus dikeluarkan. Biasanya hasil dari bobotan tersebut akan di sedekahkan kepada fakir miskin dengan tujuan menghilangkan bala bagi si bayi yang baru dilahirkan.

Adapun adat istiadat Awirarangan yang masih ada sampai sekarang diantaranya adalah:
- Babarit 
- Nyungsung, nyungsung merupakan persembahan sesajen ke tempat keramat oleh warga yang akan melaksanakan hajat.
- Rendengan Pengantin, rendengan pengantin merupakan prosesi adat pengantin.
- Ngabarangsang,ngabarangsang yaitu membakar cabe dan garam bagi mereka yang akan melaksanakan hajat.

Adat istiadat yang dimiliki daerah Awirarangan dulu lebih banyak dibandingkan dengan adat istiadat yang masih ada sekarang ini.

IklanAsiN - ProductioN

Bangunan SMPN 1 Kuningan Akan Dijadikan Museum

Saat ini isu yang terdengar nyaring di Kabupaten Kuningan adalah adanya perpindahan sekolah favorit ke jalan baru lingkar utara, yaitu SDN 1/SDN 7 Kuningan  dan SMPN 1 Kuningan. SDN 1/SDN 7 Kuningan karena lokasinya di pusat kota dan sangat berdekatan dengan pusat perbelanjaan, agar lebih nyaman dari kebisingan pusat kota maka akan direlokasi ke tempat yang lebih nyaman. SMPN 1 Kuningan dengan ditemukannya bunker bekas penjajah (Belanda/Jepang) di bawah ruangan guru dan lokasinya kurang luas maka akan di relokasi ke lokasi yang strategis, luas, dan nyaman. Hal ini terkait SMPN 1 Kuningan berstatus RSBI jadi harus memenuhi kriteria luas area sekolah.

Relokasi (RSBI) SMPN 1 Kuningan lebih santer daripada SDN 1/SDN 7 Kuningan, karena bangunan SMP Negeri 1 Kuningan memiliki fakta sejarah yang kuat. Sejak berdirinya bangunan SMPN 1 Kuningan sampai sekarang tidak ada pemugaran karena sudah masuk pada bangunan cagar budaya. Menurut catatan sejarah berdirinya SMPN 1 Kuningan sebagai berikut:

Periode I : Tahun 1918
Bukti Dokumen Egendom Nomor: 5238 Tahun 1928 Sr. Ukur No. 15 Tanggal 26 Februari 1938. Berdasarkan bukti inilah maka SMPN 1 Kuningan didirikan pada tahun 1918.

Periode II : Tahun 1951
Bukti Surat Putusan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan RI Nomor: 2160/BIP tanggal 23 Juli 1951. Berdasarkan bukti inilah, maka SMPN 1 Kuningan mulai beroperasi secara resmi pada tahun 1951 dengan Kepala Sekolah pertama adalah Bapak Setia Miharja.

Periode III : Tahun 2004
Bukti Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMP Dirjenmandikdasmen Depdiknas Nomor: 867a/C3/KEP/2006 tanggal 13 Juni 2006. Berdasarkan bukti inilah, maka SMPN 1 Kuningan ditetapkan sebagai Sekolah Standar Nasional (SSN) di Kabupaten Kuningan.

Periode IV : Tahun 2008
Bukti Surat Keputusan Direktur Pembinaan SMP Dirjenmandikdasmen Depdiknas Nomor: 230/C3/KEP/2008 tanggal 8 Februari 2008. Berdasarkan bukti inilah, maka SMPN 1 Kuningan memasuki periode baru sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) pertama di Kabupaten Kuningan.

Pada periode terakhir ini, sebagai RSBI pertama di Kabupaten Kuningan, SMPN 1 Kuningan telah sedang dan terus melakukan upaya peningkatan serta pengembangan mutu pendidikan terhadap pelayanan prima bagi peserta didik, orangtua dan masyarakat. Diantaranya sumber daya manusia, teknologi dan manajemen. Semoga dengan adanya upaya ini, SMPN 1 Kuningan terus dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan pendidikan di Kabupaten Kuningan serta kehadirannya akan tetap menjadi kebanggaan bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Kabupaten Kuningan.

Dengan adanya beberapa bukti diatas dapat terlihat bangunan Aula SMPN 1 Kuningan masih kokoh sampai sekarang, hanya ada perubahan di pintu gerbang yang dipindahkan menjadi dua bagian, yaitu ke sebelah utara dan selatan. Tampak terlihat dengan jelas di belakang aula tidak ada bangunan, bangunan kelas adanya di sebelah kiri dan kanan aula. Sedangkan ruang guru yang sekarang adanya di belakang bangunan aula.

Karena ruang guru yang sekarang termasuk bangunan baru, ketika di renovasi ditemukan ruang seperti bunker persis di bawah bangunan ruang guru. Bunker pertama ditemukan oleh tukang gali bangunan, hari Sabtu (30/7/2011), sewaktu akan memasang cakar ayam telah ditemukan adanya bangunan yang sangat keras dalam ruang guru di bagian belakang. Seteleh dijebol ternyata ada ruang bawah tanah setinggi 2 m. Kemudian pada tanggal 2 Agustus 2011 telah ditemukan lagi dengan adanya 3 ruangan besar dan ada pintu-pintunya. Penggalian dihentikan karena akan diselidiki oleh pihak yang berwenang (masih menunggu keputusan Balai Arkeologi melalui Pemda Kuningan), untuk dipastikan bahwa bunker tersebut memiliki fakta sejarah yang kuat.

Besi beton yang  digunakan cukup besar, melebihi ibu jari. Dari bunker 1, terus ke timur masuk bunker 2, lalu ke timur lagi masuk bunker 3, tetapi masih banyak lumpur dan semua dindingnya berlapis beton kokoh. Di bagian atas isi bunker ke 2 lumpurnya setinggi 30 cm, setelah dikuras ternyata masih banyak jalan atau lorong.

Dengan ditemukannya bunker-bunker tersebut, direncanakan bangunan SMPN 1 Kuningan akan dijadikan museum (museum perjuangan masyarakat) atau tempat wisata sejarah di Jawa Barat. Secara otomatis bangunan SMPN 1 Kuningan di rencanakan akan direlokasi ke jalan baru lingkar utara. Dengan direlokasinya ketiga sekolah (pendidikan dasar) favorit di kota Kuningan ke jalan baru, maka akses jalan baru akan semakin ramai dan kota Kuningan semakin lebar.

Kapankah relokasi ketiga sekolah tersebut? Jawabannya masih dalam tahap rencana.
Mengapa direlokasi? Jawabannya (mungkin) untuk lebih nyaman dan ideal untuk lokasi pendidikan dan (mungkin) untuk menghilangkan kemacetan di pusat kota, semoga pembangunan kota Kuningan semakin tertata rapi dan masyakatpun meningkat dalam kesejahteraannya.

IklanAsiN - ProductioN

Wisata Cibulan di Kuningan

Kabupaten Kuningan yang terletak di barat daya Gunung Ciremai, memiliki banyak obyek wisata. Mulai dari wisata alam, sejarah dan wisata budaya. Salah satu obyek wisata unggulannya adalah kolam pemandian Cibulan. Kolam itu terletak di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana, atau sekitar tujuh kilometer dari Kota Kuningan. Obyek wisata Cibulan merupakan salah satu obyek wisata tertua di Kabupaten Kuningan. Diresmikan pada 27 Agustus 1939 oleh Bupati Kuningan yang saat itu dijabat oleh, R.A.A. Mohamand Achmad.

Mandi bersama Ikan Dewa, Kuningan.
Kuningan, disaat langit cerah, pemandangan indah dengan latar belakang gunung yang menjulang tinggi. Terletak di belahan barat daya kaki Gunung Ciremai, Jawa Barat. Gunung api tersebut sudah 56 tahun istirahat dalam status aktif normal. Setiap tahunnya tak pernah kurang dikunjungi puluhan ribu pendaki.

Di wilayah Kecamatan Cilimus, wisatawan bisa melepas lelah di objek wisata Sangkan Hurip Alami, sebuah tempat rekreasi dengan pemandian air panas alami beryodium. Di sekitarnya juga tersedia hotel yang di setiap kamarnya difasilitasi air panas. Di Grage Sangkan dan Tirta Sanita, kawasan Sangkan Hurip, terdapat fasilitas untuk terapi kebugaran Sante Par Aqua.

Masih di sekitar kaki Gunung Ciremai, wisatawan dapat menyaksikan kolam-kolam berisi ikan kancra bodas. Jenis ikan langka yang disebut-sebut sebagai ikan keramat atau ikan dewa. Ikan-ikan tersebut terdapat di kolam renang Cibulan, kolam renang Cigugur dan di objek wisata Balong Keramat Darmaloka. Ketiga lokasi wisata itu sangat mudah dicapai dan sangat berdekatan dengan lintasan jalan raya Cirebon-Ciamis.

Khusus Cibulan kita berenang bersama ikan-ikan besar yang jinak di kolam renang alam yang airnya sangat jernih, sejernih aqua. Sungguh keunikan ini tidak ditemui ditempat lain. Anak-anak pasti senang mendapatkan pengalaman baru disini, mandi bersama ikan Dewa.

Masih ditempat yang sama, ada 7 mata air yang diyakini oleh mitos setempat memiliki nilai-nilai supranatural. Biasanya untuk bisa masuk ke obyek wisata Cibulan, terlebih dahulu para wisatawan harus membeli tiket. Untuk harga tiket bagi anak-anak dikenakan Rp 1.000 per orang, sedangkan untuk orang dewasa Rp 2.000 per orang. Obyek wisata pemandian Cibulan sendiri dikelola oleh Pemerintah Desa Manis Kidul. Biasanya selalu ramai dikunjungi para wisatawan pada hari Minggu atau hari libur.

Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Cibulan biasanya bersama keluarga untuk mengisi hari libur sambil berenang. Terdapat dua kolam besar yang berbentuk persegi panjang. Adapun ukuran kolam yang pertama berukuran 35 X 15 meter persegi dengan kedalaman dua meter. Sedangkan untuk kolam yang kedua berukuran 45 X 15 meter persegi yang dibagi menjadi dua bagian. Bagian yang pertama berkedalaman 60 sentimeter, sedangkan untuk bagian yang kedua berkedalaman 120 sentimeter.

Tersedia fasilitas buat para pengunjung yang cukup lengkap. Tempat ganti pakaian, kamar kecil, kamar mandi, tempat bilas seusai berenang, musholla serta penyewaan ban karet. Tidak hanya itu, para pengunjung juga dapat menikmati puluhan ikan yang berwarna abu-abu kehitaman, atau yang lebih dikenal ikan Kancra Bodas (Ikan Dewa) di dalam kolam tersebut.

Konon menurut cerita masyarakat Desa Manis Kidul, Kuningan. Ikan tersebut merupakan ikan yang dahulunya adalah para prajurit-prajurit yang membangkang pada masa Kerajaan Padjajaran. Kemudian dikutuk oleh Prabu Siliwangi menjadi ikan. Sampai sekarang ikan tersebut dipercaya oleh masyarakat Desa Manis Kidul sebagai ikan keramat yang mempunyai keistimewaan tertentu.

Namun terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut, khususnya bagi masyarakat Kuningan, sampai saat ini tidak ada yang berani mengambilnya. Ada kepercayaan bahwa barang siapa yang berani mengambil dan mengganggu ikan-ikan tersebut akan mendapatkan kemalangan.

Selain kolam dengan ikan Kancra Bodas, terdapat tujuh sumber mata air yang dikeramatkan. Tujuh mata air ini terdiri dari kolam-kolam kecil yang masing-masing mempunyai nama tersendiri. Sumur satu, Kejayaan; sumur dua, Kemuliaan; sumur tiga, Pengabulan; sumur empat, Cirancana; sumur lima, Cisadane; sumur enam Kemudahan, serta sumur tujuh, Keselamatan.

Di antara ketujuh sumur itu, konon dari salah satu sumur yang bernama Cirancana terdapat kepiting emas. Apabila ada orang yang sedang mujur dan dapat melihat wujud dari kepiting emas tersebut, maka segala keinginannya akan terkabul.

Selain terdapat tujuh sumber mata air, juga terdapat sebuah petilasan yang letaknya dikelilingi oleh ketujuh sumber mata air tersebut. Konon menurut cerita, petilasan tersebut merupakan petilasan Prabu Siliwangi. Petilasan berupa susunan batu menhir dan dua patung harimau. Tujuh sumur dan petilasan Prabu Siliwangi sering dikunjungi orang untuk berziarah, terutama pada malam Jumat Kliwon atau selama bulan Maulud dalam penanggalan Hijriah.

IklanAsiN - ProductioN

Wisata Palutungan di Kuningan

Ada tempat bagus di Kuningan, yaitu Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri. Tapi hati-hati, di sana angker meski banyak pengunjungnya, kata seorang teman ketika ditanya tentang tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kepopuleran tentang keangkeran itu membuat tempat tersebut pernah dijadikan lokasi program uji keberanian yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Kesan mistis adanya seorang putri yang menunggu didaerah itu membuat banyak pengunjung yang datang dengan berbagai alasan dan lebih dari sekadar berwisata. Ada yang ingin segera dapat jodoh atau pekerjaan setelah mandi dibawah curug (air terjun). Aktivitas itu akan terasa ketika mendekati bulan puasa atau hari tertentu yang dikeramatkan.

Salah seorang mantan penjaga bumi perkemahan dan curug tersebut mengemukakan, banyak warga masyarakat dan pengunjung yang menganggap tempat itu perlu didatangi, khususnya bagi mereka yang ingin meminta berkah, padahal semuanya itu tidak benar. Tempat tersebut murni sebagai lokasi air terjun yang bisa dinikmati untuk melepas penat dan melupakan sejenak aktivitas sehari-hari.

"Tetapi, lama-kelamaan anggapan itu mengganggu juga. Banyak calon pengunjung takut datang ke sini. Mereka takut terjadi sesuatu yang buruk", kata seorang mantan penjaga bumi perkemahan dan curug tersebut.

Indah, tapi kurang terkenal
Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri terletak di Desa Palutungan, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Tempat wisata ini berada 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ini merupakan salah satu alternatif tempat liburan yang ada di Kuningan.

Meski mempunyai pemandangan indah, nama kedua tempat ini tidak sehebat tempat wisata lain di Kuningan, seperti Waduk Darma, Curug si Domba, Sumur Tujuh Cibulan, Taman Purbakala Cipari, Kolam Ikan Dewa Cigugur, Gedung Linggarjati, dan Telaga Remis. Mitos keangkerannya sering kali lebih mudah dikenali ketimbang keindahannya.

Pemandangan dan aktivitas warga setempat dalam perjalanan ke lokasi itu merupakan sesuatu yang jarang ditemukan di kota besar. Di kanan dan kiri jalan sekitar kaki Gunung Ciremai (3.078 mdpl) misalnya, banyak sekali lahan yang ditanami sayur-mayur dan budi daya sapi perah. Bahkan jika beruntung, pengunjung bisa menyaksikan pemanenan, pembersihan sayuran, dan pendistribusian sayuran tersebut. Sementara itu bagi pemeluk agama Katolik, jika ingin sekaligus mendapatkan wisata religius bisa menyempatkan diri ke Goa Maria Totombok yang berada di Cisantana.

Tempat ini juga merupakan salah satu dari tiga jalur pendakian menuju puncak Gunung Ciremai. Meski merupakan jalur terpanjang, pendaki lebih memilih lewat sini karena merupakan rute paling mudah. Untuk bisa sampai ke Bumi Perkemahan dan Curug Ciputri, calon pengunjung dari Cirebon bisa melewati kota Kuningan yang berada di ketinggian 466 mdpl, menuju Kecamatan Cigugur. Selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa menggunakan bus atau angkutan yang disebut travel (minibus).

Pengunjung asal Bandung bisa menggunakan bus ekonomi dengan tarif Rp 20.000,- atau Rp 30.000,- (bus eksekutif) menuju Cirebon. Dari Terminal Cirebon, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Kuningan yang biayanya Rp 5.000,- per orang. Di Kuningan pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum bernomor 16 jurusan Kuningan-Palutungan.

Pengunjung asal Jakarta bisa menggunakan bus ekonomi (jurusan Kuningan) dengan tarif Rp 30.000,- atau bus eksekutif yang bertarif Rp 40.000,-. Dari Kuningan, pengunjung bisa menggunakan jalur yang sama dengan jurusan Kuningan-Palutungan. Tarifnya Rp 2.000-Rp 3.000 per orang.

Atau bila mau, pengunjung yang datang dalam jumlah tidak besar bisa menggunakan ojek motor setibanya di Kuningan. Meski tarif lebih mahal Rp 10.000-Rp 20.000 per orang, pengunjung bisa merasakan langsung angin sejuk selama di perjalanan.

Sesampainya di Palutungan, pengunjung yang datang dalam jumlah besar biasanya langsung memesan tempat untuk berkemah. Namun, pengunjung dalam kelompok kecil dan tidak ingin menginap bisa langsung ke Curug Ciputri.

Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri merupakan tempat di Kuningan yang sepenuhnya dibuat oleh alam. Bumi perkemahan dibuka terlebih dahulu sekitar tahun 1984, sedangkan kawasan Curug Ciputri dibuka untuk umum pada tahun 1989. Dengan luas sekitar 9 hektar dan dikelilingi pohon pinus, bumi perkemahan menjadi tempat menarik untuk menghabiskan malam. Bahkan bila jenuh, malam hari pengunjung bisa keluar dari area perkemahan untuk melihat gemerlap lampu Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dari jalan Desa Palutungan.

Setelah menikmati malam, pagi harinya pengunjung bisa mandi di bawah curug yang mempunyai mata air jauh di dalam hutan Gunung Ciremai. Mereka yang ingin menikmati sensasi lebih bisa mandi di bawah curug yang ketinggiannya mencapai 12 meter. Mereka yang ingin berendam bisa memanfaatkan bendungan air yang terdapat di undakan kedua aliran sungai. Jalan yang kami buat diusahakan tetap alami, kami menyusunnya dari tanah dan bebatuan kali. Hal ini harus kami buat karena selain jalan ini, tidak ada jalan sama sekali menuju ke bawah.

Keadaan umum
Luas wisata Palutungan adalah 9.3ha terletak di RPH Cigugur BKPH Linggarjati, KPH Kuningan. Secara administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan. Wana wisata ini terletak pada ketinggian 1.100-1.150 mdpl, konfigurasi lapangan umumnya berbukit. Kawasan ini mempunyai curah hujan 3.000mm/tahun dengan suhu udara 24-27C.

Potensi kawasan
Wana wisata ini terdiri dari 9ha hutan tanaman pinus merkusi, sumber air yang ada berupa mata air gejala alam/potensi visual lanskipe didalam kawasan yang mempunyai karakteristik khas adalah hutan tanaman.

Potensi Wisata
Wana wisata ini digunakan untuk wisata harian dan wisata berkemah. Kegiatan wisata harian yang dapat dilakukan adalah piknik dan olahraga volley ball.

Fasilitas
Jenis fasilitas yang ada adalah loket karcis, papan petunjuk, pusat informasi, instalasi air, shelter, tempat parkir, tempat duduk, MCK, lapangan upacara, lapangan volley, umumnya fasilitas tersebut dalam keadaan kurang terawat.

Aksesbilitas
Wana wisata ini dapat dicapai dari Kecamatan Cigugur (8km), dari Kabupaten Kuningan (11km). Kondisi jalan umumnya baik (beraspal), dapat dilalui kendaraan roda empat.

IklanAsiN - ProductioN

Makam Eyang Cageur di Kuningan

Makam keramat Eyang Dalem Cageur yang berada di Desa Cageur Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan, bakal terus dipertahankan karena mampu melestarikan hutan tropis bahkan perlu dikembangkan sebagai potensi wisata ziarah.

"Kabupaten Kuningan memiliki 141 situs yang sudah didata serta banyak potensi alam dan budaya yang menarik, sehingga menjadi andalan dalam sektor pariwisata. Potensi alam dan budaya tersebut sebagian sudah dikembangkan, namun sebagian lagi masih dalam tahap inventarisasi dan eksplorasi".

Pemerintah Kabupaten Kuningan saat ini sedang merencanakan dengan menggali seluruh potensi yang ada secara bertahap dengan cara meningkatkan mutu objek dan daya tarik wisata, melakukan promosi serta menggali dan mengembangkan potensi objek wisata tersebut.

Berdasarkan data yang diperoleh, objek dan daya tarik wisata yang tengah di jajagi untuk dikembangkan berada di wilayah bagian selatan Kuningan, yakni objek wisata ziarah Eyang Dalem Cageur yang berlokasi di Desa Cageur Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan.

Situs Eyang Dalem Cageur yang berada di bawah pengawasan Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten, Kesatuan Pemangkuan Hutan Kuningan, memiliki luas 12,70 Hektare dan di dalamnya terdapat makam Eyang Dalem Cageur yang oleh penduduk setempat dikeramatkan dan menjadi situs budaya.

Eyang Dalem Cageur nama aslinya Eyang Satariah (Satari), ia seorang pejuang Islam dan sebagai abdi dalem Keraton Kesultanan Cirebon yang mendapat tugas dari Sunan Gunung Jati. Eyang Cageur bersama pasukan pimpinan Syech Rama Haji Irengan, bertugas untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Kabupaten Kuningan sekaligus menjaga serangan dari Pasukan Galuh Ciamis yang saat itu beragama Hindu.

IklanAsiN - ProductioN

Kamis, 28 November 2013

Berenang Bersama Ikan Keramat di Kuningan

Tak jarang di beberapa tempat objek wisata di Indonesia ada sesuatu yang dikeramatkan. Mulai dari tempatnya sendiri, ataupun sesuatu yang berada di tempat wisata tersebut. Misalnya sebongkah batu, patung atau bahkan binatang seperti seekor ikan. Ya ikan, kenapa ikan bisa dikeramatkan? Apakah ada sesuatu yang istimewa dari ikan tersebut? Menemukan jawabannya tentu kembali kepada cerita yang melatar belakangi keberadaan dari ikan-ikan tersebut. Nah sekarang dimana sajakah anda dapat menemukan ikan-ikan keramat itu berada, dibawah ini ada daftar singkatnya.

1. Objek Wisata Cigugur
Objek wisata Cigugur berada wilayah kaki gunung Ciremai, Kuningan, Jawa Barat. Disana terdapat ikan yang bernama Ikan Dewa. Kenapa dinamakan ikan dewa? tidak ada yang tahu kepastiannya, karena ikan itu muncul secara tiba-tiba, tetapi kolam sebagai tempat ikan itu dapat hidup berenang-renang sesuka hatinya mempunyai cerita yang berkaitan erat dengan Sunan Gunung Jati.

Adalah Rama Haji Irengan yang merupakan salah satu murid dari Sunan Gunung Jati, Rama Haji Irengan membuat kolam itu sebagai pertanda bahwa wilayah tersebut telah memeluk agama Islam seperti amanah yang diberikan oleh sang guru.

Ikan Dewa ini konon akan menghilang dengan sendirinya saat air kolam menyusut, tetapi akan muncul kembali apabila air kolam terisi kembali. Entah bersembunyi dimana, tetapi yang pasti masyarakat setempat percaya akan mitos dari keberadaan ikan tersebut. Barang siapa yang berani menangkap atau mengkonsumsi ikan Kancra atau dalam bahasa latin dikenal Labaebarbus Dournensis akan berakibat petaka.

Awalnya kolam ini hanya satu saja, namun semenjak dikelola sebagai objek wisata kolampun dibagi menjadi dua bagian. Salah satu kolam dibagi lagi menjadi tiga bagian dengan kedalaman berbeda dan dapat digunakan pengunjung  untuk berenang.

2. Sumur Tujuh Cibulan
Selain di Cigugur, Ikan Dewa juga bisa ditemui di Sumur Tujuh Cibulan yang terletak di Desa Manis Kidul pinggir jalan raya Kuningan-Cirebon. Mitosnya hampir sama dengan Ikan Dewa di Cigugur, yang mengambil dan memakannya akan celaka nantinya.

Mengenai keberadaan Ikan Dewa di kolam itu masih diselimuti kabut misteri, ada cerita yang mengatakan konon ikan-ikan tersebut  dibawa oleh murid-murid Walisongo saat datang ke Cibulan. Para murid Walisongo juga meninggalkan 7 buah sumur yang mereka gunakan untuk berwudhu pada saat itu dan dipercaya dapat membuat orang tetap awet muda dengan membasuh wajahnya, dengan menggunakan air sumur tersebut. Ada pula yang mengatakan  ikan kancra bodas atau Ikan Dewa itu merupakan mantan pasukan Prabu Siliwangi yang membelot. Nah mana yang benar, hanya Tuhan yang tahu.

3. Gua Ngerong
Itulah tentang Ikan Dewa di Kuningan, lantas di daerah Kabupaten Tuban ada sebuah Gua yang bernama Gua Ngerong yang berada di kecamatan Rengel. Gua ini adalah gua air yang jika kita ingin mangarunginya harus menggunakan perahu karet.

Gua yang panjangnya sampai berkilo-kilo ini di dalamnya terdapat ikan Bader Bang (Puntius Javanicus) sebesar paha berenang-renang yang jumlahnya mencapai ribuan ekor. Mitos ikan ini sama seperti Ikan Dewa di Kuningan, karena barang siapa yang berani memakan atau membawanya pulang akan terjangkiti penyakit yang tak akan pernah sembuh.

Mitos lainnya mengatakan barang siapa yang masuk ke dalam gua maka dia harus keluar 12 jam berikutnya. Mitos-mitos ini dapat di percaya untuk menjaga lingkungan di sekitar gua beserta ikan-ikan dan hewan-hewan lainnya yang berada didalam gua tetap lestari sampai saat ini karena tidak banyak mendapatkan gangguan dari tangan-tangan manusia.

4.Objek Wisata Rambut Monte
Tidak ketinggalan selain di Kuningan, Ikan Dewa yang keramat juga dapat ditemui di Objek Wisata Rambut Monte di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Objek wisata ini terletak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Blitar. Rambut Monte berada di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari.

Kawasan wisata Rambut Monte dibagi menjadi tiga bagian utama, yakni pelataran, areal candi dan telaga yang terdapat Ikan Dewa. Warga setempat biasa menyebutnya dengan nama Ikan Sengkaring, bentuknya seperti Ikan Wader (Labeobarbus siamensis) yang panjangnya sekitar 60 centimeter.

Ikan di telaga itu cukup jinak namun tidak seorangpun yang berani menangkapnya. Kepercayaan masyarakat sekitar mengenai ikan-ikan keramat itu berdasarkan legenda yang beredar sejak dahulu kala. Konon dulu di lokasi ini terjadi perkelahian antara Rahwana dan Naga, melawan Mbah Rambut Monte, keturunan Kerajaan Majapahit.

Pertarungan itu dimenangkan oleh Mbah Rambut Monte. Mbah Rambut Monte kemudian mengutuk Rahwana dan Naga menjadi candi berbentuk monyet dan relief naga. Mbah Rambut Monte berpesan kepada sejumlah muridnya agar menjaga batu candi yang berwujud Rahwana dan relief naga.

Namun karena sebagian muridnya tidak mematuhi perintahnya, Mbah Rambut Monte marah besar dan mengutuk murid-muridnya menjadi Ikan Sengkaring yang hingga saat ini masih mendiami telaga.

IklanAsiN - ProductioN

Legenda Ikan Keramat di Kaki Gunung Ciremai

Kolam Keramat Cigugur terletak sekitar tiga kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Kuningan. Secara geografis, "balong" itu masuk ke wilayah Kelurahan Cigugur. Menurut cerita yang berkembang dan dipercaya oleh masyarakat setempat, sebelum lahir nama Cigugur, tempat itu sering disebut dengan nama Padara. Istilah ini diambil dari nama seorang tokoh masyarakat yaitu Ki Gede Padara, yang memiliki pengaruh besar di desa itu. Konon Ki Gede Padara lahir sebelum Kerajaan Cirebon berdiri.

Menurut perkiraan, tokoh yang menjadi cikal bakal masyarakat Cigugur ini lahir pada abad ke-12 atau ke-13. Pada masa itu, beberapa tokoh yang sezaman dengannya sudah mulai bermunculan, di antaranya Pangeran Pucuk Umun dari Kerajaan Talaga, Pangeran Galuh Cakraningrat dari Kerajaan Galuh, dan Aria Kamuning yang memimpin Kerajaan Kuningan. Berdasarkan garis keturunan, keempat tokoh tersebut masih memiliki hubungan persaudaraan. Namun dalam hal pemerintahan, kepercayaan, dan ajaran yang dianutnya, mereka memiliki perbedaan. Pangeran Pucuk Umun, Pangeran Galuh Cakraningrat, dan Aria Kamuning menganut paham aliran ajaran agama Hindu. Sedangkan Ki Gede Padara tidak menganut salah satu ajaran agama apapun yang ada pada saat itu.

Pada abad ke-14 di Cirebon telah lahir sebuah perguruan yang beraliran dan mengembangkan ajaran agama Islam, tokoh yang mendirikan perguruan tersebut ialah Syech Nurdjati. Selain Syech Nurdjati, Sunan Gunungjati pun memiliki peranan yang sangat besar dalam pengembangan perguruan agama Islam di tanah Caruban itu. Sebagai kuwu pertama di Dusun Cigugur maka diangkatlah Ki Gede Alang-Alang. Hingga wafatnya, beliau dimakamkan di Kompleks Masjid Agung.

Di usia tuanya, Ki Gede Padara punya keinginan untuk segera meninggalkan kehidupan fana. Namun, ia sendiri sangat berharap proses kematiannya seperti layaknya manusia pada umumnya. Berita tersebut terdengar oleh Aria Kamuning, yang kemudian menghadap kepada Syech Syarif Hidayatullah. Atas laporan itu, Syech Syarif Hidayatullah pun langsung melakukan pertemuan dengan Padara. Syech Syarif Hidayatullah merasa kagum dengan ilmu kadigjayaan yang dimiliki oleh Ki Gede Padara.

Dalam pertemuan itu Padara pun kembali mengutarakan keinginannya agar proses kematiannya seperti layaknya manusia biasa. Syech Syarif Hidayatullah meminta agar Ki Gede Padara untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat, sebagai syaratnya. Syarat itupun langsung dipenuhi Ki Gede Padara. Namun, baru satu kalimat yang terucap, Ki Gede Padara sudah sirna. Setelah Ki Gede Padara menghilang, Syech Sarif Hidayatullah bermaksud mengambil air wudhlu. Namun, di sekitar lokasi tersebut sangat sulit ditemukan sepercik air pun. Dengan meminta bantuan Allah SWT, diapun menghadirkan guntur dan halilintar disertai hujan yang langsung membasahi bumi. Dari peristiwa inilah kemudian sebuah kolam tercipta. Namun, masyarakat setempat tidak tahu menahu kapan persisnya kolam tersebut dibangun. Satu hal pasti, kolam tersebut dianggap keramat. Apalagi setelah kolam "ditanami" ikan kancra bodas.

Pengeramatan tersebut juga dilakukan oleh masyarakat terhadap ikan sejenis yang hidup di kolam Darmaloka, Cibulan, Linggarjati, dan Pasawahan. Maksud pengkeramatan terhadap ikan langka tersebut tidak lain bertujuan untuk menjaga dan melestarikannya dari kepunahan akibat ulah manusia. Ada hal aneh yang sampai kini masih terjadi atas ikan-ikan itu: Jumlahnya dari tahun ke tahun tak pernah bertambah ataupun berkurang. Seolah ikan-ikan tersebut tidak pernah mati atau menurunkan generasi dan keturunan. Komunitas ikan kancra bodas ini tak dapat ditemui selain di kolam-kolam keramat yang ada di Kabupaten Kuningan. Keanehan lainnya terlihat dari polah tingkah laku mereka yang sangat akrab dengan manusia. Bila kolam dibersihkan, masyarakat sekitar sering melihat bahwa ikan-ikan yang ada di kolam tersebut menghilang. Mereka percaya bahwa ikan-ikan tersebut berpindah lokasi ke kolam-kolam keramat lainnya yang ada di Kuningan.

IklanAsiN - ProductioN

Eyang Menado Dari Lengkong Kuningan

Hingga tahun 2006, jumlah pahlawan nasional bangsa Indonesia baru 136 orang. Hanya delapan orang yang berasal dari kalangan ulama, 2 orang diantaranya berasal dari Jawa Barat, yaitu K.H. Zaenal Mustofa dari Singaparna (Kabupaten Tasikmalaya) dan K.H. Noer Alie dari Kabupaten Bekasi. Apakah ini berarti ulama kurang berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan?

Agaknya bukan itu penyebabnya, namun peran para ulama, para kiai belum banyak digali para peneliti. Di Jawa Barat, ada banyak kiai, ulama yang berjuang sejak abad ke-19 hingga masa perang kemerdekaan. Dalam menghadapi pengaruh penetrasi Barat satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah melakukan gerakan sosial sebagai bentuk protes sosial. Demikian juga yang terjadi di berbagai tempat di Tatar Sunda, termasuk di Kabupaten Kuningan.

Gerakan sosial yang terjadi di daerah ini dilakukan oleh Kiai Haji Hasan Maolani (1779-1874) dari Desa Lengkong. Masyarakat mengenalnya sebagai "Eyang Menado", karena ia diasingkan ke Menado (meskipun sesungguhnya diasingkan ke Tondano, sebelah selatan Menado), selama 32 tahun hingga meninggal dunia di sana. Sumber-sumber yang memberitakan adanya gerakan ini sangat terbatas. Pertama sekali dilaporkan dalam Laporan Politik Pemerintah Kolonial tahun 1839-1849 (Exhibitum, 31 Januari 1851, no. 27). Kemudian disebutkan pula dalam tulisan E. de Waal, yang berjudul Onze Indische Financien, 1876, secara sangat singkat. Selanjutnya diuraikan cukup panjang, dalam Disertasi D.W.J. Drewes, yang berjudul Drie Javaansche Goeroe's (1925).

Baru tahun 1975 A. Tisnawerdaya, menulis biografi ringkas Kiai Hasan Maolani. Hingga sekarang masih ada peninggalan K.H. Hasan Maolani, berupa bangunan rumah panggung berdinding anyaman bambu dan benda-benda milik pribadi. Selain itu, masih ada peninggalan berupa naskah yang ditulis di atas kertas dengan tinta warna hitam dan merah. Naskah berjudul Fathul Qorib, ini ditulis dalam huruf Arab Pegon, berbahasa Jawa campur Sunda. Peninggalan berharga lainnya adalah kumpulan surat-surat yang dikirim Kiai Hasan dari pengasingannya.

K.H. Hasan Maolani dilahirkan pada 1199 Hijriah atau 1779 Masehi di Desa Lengkong, sekarang termasuk Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan. Menurut silsilahnya Kiai Hasan Maolani, memiliki leluhur hingga kepada Sunan Gunung Jati. Ketika Hasan Maolani dilahirkan, Panembahan Dako, seorang Kiai yang makamnya banyak diziarahi orang karena kekeramatannya, mengatakan bahwa anak ini benar-benar cakap dan memiliki "bulu kenabian". Maksudnya, memiliki tanda-tanda akan menjadi ulama. Sejak kecil anak ini dikenal memiliki sifat-sifat yang baik. Hatinya lembut berbudi luhur, sayang kepada sesama makhluk, termasuk binatang dan tumbuhan.

Sejak kecil, Hasan Maolani suka menyepi (uzlah) di tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, setelah dewasa ia sering menyepi di Gunung Ciremai. Hasan mula-mula menimba ilmu di Pesantren Embah Padang. Setelah itu, ia menimba ilmu di Pesantren Kedung Rajagaluh (Majalengka) dan Pesantren Ciwaringin, Cirebon. Selain itu, Hasan masih belajar lagi di beberapa Pesantren lain. Setelah dewasa, Hasan Maolani, belajar tarekat: Satariyah, Qodariyah, Naksabandiyah, dan seterusnya. Namun akhirnya Hasan Maolani menganut tarekat Satariyah.

Sekembali dari berguru di beberapa Pesantren, Hasan Maolani kembali ke desa asalnya di Lengkong dan membuka Pesantren. Sejak ia membuka Pesantren, berduyun-duyun orang yang datang ingin menjadi santrinya. Jumlah santri yang mondok cukup banyak hingga 40 pondok yang disediakan tidak mampu menampungnya. Selain itu, makin hari makin banyak orang datang kepada K.H. Hasan Maolani untuk berbagai keperluan, mulai dari berobat hingga meminta tolong untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Tentu saja dengan adanya orang yang berkumpul setiap hari, dalam jumlah banyak mengundang kecurigaan Pemerintah Kolonial, yang baru saja usai menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830).

Salah satu ajaran Kiai Hasan Maolani, yang penting dan dianggap membahayakan pemerintah kolonial adalah tentang "jihad". Ajaran yang ditulisnya dalam Fathul Qorib mengatakan: "Jika sekiranya para orang kafir memasuki negeri Muslimin atau mereka bertempat yang dekat letaknya dengan negeri orang Islam, maka dalam keadaan yang demikian itu hukum jihad adalah fardlu ain bagi kaum Muslimin. Wajib bagi para ahli negeri itu untuk menolak (menghalau) para orang kafir dengan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh kaum Muslimin untuk menolaknya".

Jelas, bahwa Kiai Hasan Maolani memiliki kesadaran bahwa negerinya sedang dijajah. Kesadaran ini disampaikan kepada masyarakat, yang datang maupun yang jauh melalui surat-suratnya. Perang Diponegoro menyisakan pelajaran bagi pemerintah kolonial untuk segera meredam ajaran-ajaran yang dianggap membangkitkan kesadaran rakyat untuk menentang orang kafir (dalam hal ini pemerintah jajahan). Itulah sebabnya, pemerintah kolonial melalui kaki tangannya di Kabupaten Kuningan segera melancarkan tudingan bahwa Kiai Hasan Maolani dituduh menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariah, menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan. Padahal, ajaran-ajarannya seperti yang disebutkan di atas, tidak ada yang tidak sesuai dengan syariah.

Dalam hal ini, kita bisa menduga apa motif pemerintah kolonial dalam melancarkan tuduhan kepada Kiai Hasan, tidak lain hanya untuk menjatuhkan nama Kiai Hasan di mata masyarakat pribumi dan mencari-cari kesalahannya. Residen Priangan setelah mendapat informasi mengenai surat edaran dan akibat yang ditimbulkannya, segera mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia, menyampaikan usul agar kerusuhan itu harus diselidiki di Lengkong, Kabupaten Kuningan (Cirebon).

Pengaruh Kiai Hasan Maolani semakin mendalam di kalangan penduduk, bahkan sampai merembet kepada para pemimpin pribumi. Hal ini dijadikan alasan oleh Residen untuk menangkap Kiai Hasan. Residen Priangan menulis surat ke Batavia yang menyatakan bahwa rakyat lebih menghargai dan patuh kepada Kiai Hasan Maolani daripada kepada Bupati Kuningan. Residen juga melaporkan bahwa Kiai Hasan akan melawan "gubernemen" (pemerintah Hindia Belanda) dan ajarannya sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Kiai Hasan Maolani yang sederhana itu dengan kata-katanya yang dibuat sedemikian rupa, sehingga dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuatan luar biasa dan dilebihkan dari keistimewaan ulama lainnya, sungguh sangat membahayakan masyarakat serta mengganggu ketenteraman jika kepentingan kiai tersebut mendapat angin.

Pada bagian akhir suratnya, Residen Priangan menulis kata-kata "Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para Bupati. Mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan Kiai Lengkong dari Pulau Jawa". Melihat gerakan Kiai Hasan Maolani, yang semakin hari dianggap semakin berbahaya, pemerintah kolonial akhirnya mengambil tindakan Kiai Hasan harus ditangkap.

Dalam catatan keluarga, Kiai Hasan Maolani dibawa oleh petugas pemerintah kolonial, pada hari kamis, tanggal 12 Safar 1257 H (1837 Masehi), waktu asar. Dikatakan bahwa kiai akan dibawa menghadap kepada Residen Cirebon untuk dimintai keterangan. Namun ternyata, Kiai Hasan tidak pernah kembali. Ia ditahan di Cirebon. Ternyata setelah berada dalam tahanan di Cirebon, para murid, santri, dan masyarakat umum datang berduyun-duyun setiap hari menjenguk Kiai Hasan Maolani.

Hal ini membuat pemerintah kolonial kewalahan. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk memindahkan Kiai Hasan ke Batavia dengan diangkut kapal laut. Di Batavia, Kiai Hasan Maolani tetap saja mendapat kunjungan para murid dan santrinya dalam jumlah yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, setelah ditahan selama 9 bulan di Batavia, diambil tindakan lain: Dengan surat keputusan tanggal 6 Juni 1842, Kiai Hasan Maolani diasingkan ke Menado dengan status sebagai tahanan negara.

Kiai Hasan ternyata dibawa terlebih dahulu ke Ternate, dari sini kemudian dibawa ke Kaema. Seratus hari kemudian, ia dipindahkan ke Tondano. Di sini Kiai Hasan tinggal di Kampung Jawa bersama pasukan Kiai Mojo (Panglima Pasukan Diponegoro) yang diasingkan dari Jawa Tengah. Ternyata selama di pengasingan, Kiai Hasan Maolani tidak tinggal diam. Di Kampung Jawa, ia mengajar bekas pasukan Diponegoro yang ingin mendalami agama Islam.

Lama-kelamaan, semakin banyak muridnya, termasuk orang sekitar. Banyak orang yang tadinya non-Islam berhasil di Islamkan. Akhirnya, Kiai Hasan membuka Pesantren, yang dikenal sebagai "Pesantren Rama Kiai Lengkong". Semakin lama namanya tambah terkenal bukan karena kekeramatannya, namun juga karena ajarannya yang mudah dimengerti. Kiai Hasan juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan pertanian dan perikanan sebagaimana dilakukannya di Desa Lengkong dahulu.

Putra kiai yang bernama Mohamad Hakim pernah mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah agar ayahnya dikembalikan dari tempat pengasingannya. Namun, Residen Priangan yang dimintai pendapatnya tentang hal ini tetap berpegang pada pendiriannya. Ia tidak mau mengambil risiko dengan mengatakan bahwa seorang yang diasingkan belum tentu akan jera dengan hukuman yang ditimpakan kepadanya. Kemudian keempat orang putranya kembali mengajukan permohonan kepada pemerintah pada bulan Desember 1868, yang isinya menyatakan bahwa ayah mereka yang sudah berusia 90 tahun itu supaya dikembalikan ke tanah Jawa Barat.

Semua permintaan ini ditolak karena Kiai Hasan dianggap terlalu berbahaya meskipun sudah diasingkan, pengaruhnya masih terasa. Para murid, santri, dan rakyat tetap menjalankan anjuran-anjurannya baik dalam beribadah ritual maupun ibadah sosial. Untuk ketiga kalinya, salah seorang putra Kiai Hasan Maolani mengajukan permohonan untuk menengok ayahnya di Menado. Semula Residen Cirebon menolak permohonan itu, tetapi setelah mendapat saran dari Gubernur Jenderal, barulah putra Kiai yang bernama Kiai Absori diizinkan menengoknya ke Menado.

Pada tanggal 29 April 1874 Kiai Hasan Maolani meninggal dunia dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kiai Mojo di Tondano. Kiai Hasan diasingkan begitu lama, namun namanya tetap melekat di hati rakyat Kuningan. Orang mengenangnya sebagai "Eyang Menado". Makamnya banyak diziarahi orang, baik orang Kuningan maupun masyarakat setempat. Namun, yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita memberikan penghargaan atas perjuangannya. Rasanya bukan hanya masyarakat Kuningan yang setuju agar K.H. Hasan Maolani diangkat sebagai pahlawan nasional. Penulis, guru besar ilmu sejarah Universitas Padjadjaran Bandung.

IklanAsiN - ProductioN

Rabu, 27 November 2013

Makam Hasan Maolani di Lengkong Kuningan

Eyang Hasan Maolani dilahirkan di Desa Lengkong, Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan pada 22 Mei 1782. Ia merupakan salah seorang keturunan Kiai Bagus Luqman bin Kiai Syatar Citangtu, keturunan ke-12 Sunan Kali Jaga. Selama hidupnya, Eyang Hasan Maolani terkenal sebagai ulama dan tokoh yang menjadi panutan. Beliaupun dikenal sebagai salah seorang perintis penyebaran agama Islam di Kuningan.

Hingga saat ini, makam dan rumah Eyang Hasan Maolani yang juga berjasa membangun Masjid Al Barokah di Kecamatan Garawangi, banyak dikunjungi warga dari luar daerah Kabupaten Kuningan. Para pengunjung datang untuk berdoa dan ingin tahu tentang sejarah Eyang Hasan Maolani. Mereka pun ingin mengetahui dan mempelajari sejauh mana keberadaan 40 fathul korib tulisan tangan.

Kiai Emon (65), sesepuh Pondok Pesantren Baitul Mutaalli Mi'in Lengkong, keturunan ke-5 ulama Lengkong dari Eyang Hasan Maolani, mengatakan makam dan rumah Eyang Hasan Maolani sudah berusia sekitar 300 tahun. Beliau, kata Emon, meninggal di Kampung Jawa Tondam, Sulawesi Utara (Manado), Rabu Wage pukul 05.00, 12 Rabiulawal 1291 H atau 30 April 1874.

Menurut Emon, Belanda sangat mengkhawatirkan pengaruh Eyang Hasan di Kabupaten Kuningan, terutama dalam penyebaran agama Islam. Eyang Hasan yang menjadi panutan dan di kagumi masyarakat, dikhawatirkan akan mengancam keberadaan Belanda.

Dengan alasan itu, pemerintah Belanda memutuskan membawa Eyang Hasan Maolani ke Cirebon. Setelah itu, beliau dipindahkan ke Jakarta dan selanjutnya dibawa ke Sulawesi Utara. Ketika ditawan di Sulawesi Utara, Eyang Hasan disatukan dengan para prajurit Diponegoro dan Pangeran Mojo.

"Sebelum dibawa ke Manado, beliau menitipkan rambut, jenggot, tongkat, 40 fathul korib tulisan tangan, golok salam nunggal, dan keris. Barang-barang seperti 40 fathul korib tulisan tangan, golok salam nunggal, tongkat dan keris kini masih terjaga. Hanya jenggot dan rambut beliau telah dikubur di sekitar makam beliau", jelas Emon.

Menurut Emon yang merupakan keturunan Eyang Hasan Maolani menyatakan, sebelum wafat di Manado, Eyang Hasan pernah menitipkan rambut dan jenggotnya untuk dikuburkan di Desa Lengkong. "Beliau beranggapan, meski itu rambut dan jenggot, sama saja dengan jasadnya", kata Emon seraya menambahkan. Eyang Hasan Maolani yang beristri Nyai Murtasim binti Kiai Arifah Garawangi telah dikaruniai 11 anak.

IklanAsiN - ProductioN

Asal Usul Palutungan di Kuningan

Tinjauan Eksternal Kecamatan Cigugur
Kecamatan Cigugur merupakan kecamatan dimana Objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri ini berada, sehingga tinjauan tentang kecamatan ini dirasa perlu, karena sangat berpengaruh terhadap keberadaan Objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri ini secara eksternal. Kecamatan Cigugur merupakan kecamatan yang terletak di wilayah Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat. Tepatnya berada di bagian Kuningan Barat. Kecamatan ini berada 5 km dari Kota Kuningan dan 35 km dari Kota Cirebon.
Secara administratif Kecamatan Cigugur mempunyai batasan wilayah dengan:
• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gunung Keling
• Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cileuleuy
• Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Majalengka
• Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sukamulya

Tinjauan Internal Desa Cisantana
Desa Cisantana merupakan desa terakhir yang ditemui sebelum mencapai lokasi. Dimana lokasi objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Desa Cisantana. Desa ini berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Secara administratif Desa Cisantana mempunyai batasan wilayah dengan:
• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gunung Keling
• Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cileuleuy
• Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Majalengka
• Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cigugur

Tinjauan Internal Objek Wisata Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri
A. Kondisi Fisik dan Geografis
Objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri mempunyai luasan 9 Ha. Untuk bisa sampai ke bumi perkemahan dan Curug Ciputri, calon pengunjung dari Cirebon bisa melewati kota Kuningan yang berada di ketinggian 466 mdpl, menuju Kecamatan Cigugur. Jarak dari Kabupaten Kuningan adalah 5 Km. Kawasan objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri berbatasan dengan:

• Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Gunung Keling
• Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cileuleuy
• Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Majalengka
• Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Cigugur

Objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri sendiri merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dimana ketinggian atau bentangan alam mengarah dari bagian selatan ke arah utara.

Iklim di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri termasuk iklim tropis. Dengan kekayaan vegetasi yang terdapat di dalam dan sekitarnya seperti sayur–mayur dan budi daya sapi perah.

Pengelolaan Objek Wisata Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri
Pengelolaan objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri di pegang secara penuh oleh pemerintah daerah setempat dimana untuk operasional di lapangan dipimpin oleh seorang kepala wisata yang dibantu beberapa orang pegawai dan mitra kerja yang berasal dari penduduk sekitar kawasan.

Perawatan dan penambahan fasilitas wisata dilakukan secara berkala dengan biaya operasional berasal dari tarif masuk pengunjung ke objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri tersebut. Fasilitas penunjang wisata yang ada di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri belum dapat dikatakan memadai. Akan tetapi dengan fasilitas yang ada telah cukup melayani pengunjung yang datang, dikarenakan fasilitas seperti blok perkemahan, warung, MCK umum, dan lain-lain, merupakan fasilitas penunjang yang dapat dikatakan masih jarang dimiliki oleh objek-objek lain. Walaupun dengan perkembangan pengunjung yang semakin pesat perlu adanya penambahan beberapa fasilitas penunjang yang dapat dipergunakan untuk pelayanan bagi wisatawan yang datang berkunjung.

B. Prasarana dan Sarana
• Prasarana
Prasarana yang telah ada di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri meliputi jalan beraspal sepanjang 2 km, sisanya masih jalan tanah. Kondisi jalan beraspal di dalam kawasan objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri kondisinya belum baik, dimana beberapa tempat terdapat jalan yang telah rusak. Selain itu jalan beraspal belum mencapai objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri.

Saluran air yang ada merupakan sisa peninggalan penjajah dan kondisinya sudah kurang layak untuk digunakan, sedangkan kebutuhan air bagi objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri masih menggunakan selang yang sistem pengalirannya masih menggunakan tekanan ketinggian. Tempat pembuangan sampah di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri ini pengadaannya masih belum mendapat pengelolaan secara baik.

• Sarana
Sarana yang telah ada berupa Portal, Rumah Penjaga, Lapangan Parkir, Musholla, MCK, Warung, dan Lokasi Berkemah. Fasilitas penunjang wisata yang ada di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri belumlah dapat dikatakan memadai. Akan tetapi dengan fasilitas yang ada telah cukup melayani pengunjung yang datang.

Transportasi dan Pola Pencapaian
Angkutan transportasi menuju objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri dilayani oleh dua moda angkutan yakni angkutan desa dan ojek. Angkutan Desa berada di Desa Cigugur dengan biaya menuju objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri sebesar Rp 4000. Pelayanan Ojeg dengan pangkalan berada di Desa Cisantana dengan biaya sebesar Rp 2000.

Identifikasi Potensi Objek Wisata Bumi Perkemahan Palutungan Dan Curug Ciputri
Dengan ketinggian 1100 meter diatas permukaan laut (mdpl) objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri merupakan tempat yang cocok bagi wisatawan yang menginginkan suasana sejuk pegunungan.

Objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri memiliki debit air yang tinggi merupakan sumber daya alam yang tak ternilai harganya dimana para pengunjung dapat menikmati segarnya air pegunungan yang jernih. Bahkan penduduk yang berada di Desa Cisantana menggunakan sumber air tersebut untuk kebutuhan minum, masak, maupun pertanian.

Kondisi lingkungan di objek wisata bumi perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri sejauh ini memang belum memprihatinkan akan tetapi melihat kondisi eksisting dimana manajemen persampahan masih kurang baik, ditambah lagi dengan tingkat kesadaran pengunjung akan kelestarian lingkungan masih sangat rendah.
IklanAsiN - ProductioN