Senin, 25 November 2013

Salib Arang dan Gua Maria di Kuningan

Musibah tidak harus berarti keruntuhan atau kehancuran, tetapi pada saat itulah awal dari sebuah kebangkitan. Penegasan itu disampaikan Pastor Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, A. Rutten OSC kepada Mirifica.net, medio Oktober lalu. Sembari menunjuk pada sebuah salib arang sisa-sisa kebakaran bangunan Gereja Stasi Cisantana.

Pastor kelahiran Negeri Kincir Angin, Belanda yang sangat fasih berbahasa Sunda ini menjelaskan, musibah yang meratakan bangunan gereja terjadi pada tanggal 4 Juli 1980 akibat ulah seseorang yang tidak dikenal. "Bangunan yang terbuat dari papan kayu jati dan beratapkan sirap tidak bisa terselamatkan. Masih tersisa sedikit papan kayu jati dan sebagian lagi telah menjadi arang. Yang belum terbakar puing-puingnya dirangkai kembali menjadi altar dan mimbar. Beberapa papan yang sudah menjadi arang dirangkai menjadi salib arang yang sengaja dipancang berdekatan dengan altar,” paparnya.

Semua itu, menurut Pastor Rutten, OSC, dimaksudkan sebagai monumen peringatan dalam hidup menggereja umat di Tatar Sunda, khususnya Paroki Kristus Raja, Cigugur, Kuningan. Ada makna spiritual yang sangat mendalam, bahwa kehancuran bangunan gereja, ternyata tidak mampu menghancurkan bangunan hidup menggereja yang ada di dalam hati seluruh umatNya.

Dia wanti-wanti salib arang jangan ditafsirkan macam-macam, apalagi dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang berbau mistis. Bentuk kebangkitan umat Paroki Cigugur berlanjut dengan terwujudnya mimpi untuk membangun tempat peziarahan yang lebih representatif.

Pada tanggal 21 Juli 1990 Kardinal Tomko memberkati Gua Mari Sawer Rahmat yang kemudian lebih dikenal dengan tempat Ziarah Cisantana, Kuningan. "Pada kesempatan pemberkatan itu Uskup Bandung, Mgr. Alexander Djajasiswaja, Pr yang turut mendampingi Kardinal Tomko berpesan, bahwa tempat ziarah tersebut dibangun untuk seluruh umat Keuskupan Bandung dan umat Katolik pada umumnya.

Medan Berat

Tempat ziarah Cisantana dalam perkembangannya menjadi salah satu tujuan ziarah idola umat Katolik dari berbagai kota di Pulau Jawa. Bahkan sampai sekarang tempat ziarah yang terkenal karena medannya yang terjal, berbatuan, tetapi alami dan sejuk ini telah dilengkapi penginapan yang mampu menampung lebih dari 150 orang.

"Pada umumnya para calon peziarah telah menyiapkan jauh-jauh hari dalam menjalani peziarahan di Cisantana karena medannya mungkin yang terberat dibandingkan tempat-tempat ziarah yang ada di Pulau Jawa. Nilai plus lain karena tempat ziarah ini ada di tengah-tengah kantung masyarakat Sunda sehingga budaya Sunda sangat kental. Bahkan di Stasi Cisantana Misa Kudus dalam bahasa Sunda diselenggarakan 3 kali dalam setiap bulannya dan satu kali misa berbahasa Indonesia pada minggu terakhir setiap bulannya", kata Pastor Rutten, OSC.

Dari segi historis Gua Sawer Rahmat yang terletak di lereng sebelah timur gunung Ciremai bermakna Sawer dan Rahmat. Sawer dalam bahasa Sunda berarti curahan (seperti jatuhnya air terjun) dan rahmat berarti rejeki, berkat, karunia, dan wujud cinta kasih Tuhan lainnya kepada umatNya.

Umat setempat menyadari, terwujudnya tempat peziarahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Allah dalam karya keselamatan yang diwartakan Gereja Kristus Raja, Cigugur, Kuningan. Gua Maria Sawer Rahmat dijadikan tonggak sejarah gereja setelah 25 tahun mengabdi kepada umat setempat.

IklanAsiN - ProductioN

Ada Gua Maria di Kuningan

Gua Maria Sawer Rahmat terdapat di Sebuah desa di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, bernama Desa Cisantana. Cisantana terletak di lereng sebelah timur kaki Gunung Ciremai pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut. Daerah tersebut merupakan wilayah pertanian dengan suhu udara yang cukup dingin. Menurut catatan di gereja Cisantana, umat Katolik di daerah ini berjumlah kurang lebih 1200 orang yang sebagian besar hidup dari pertanian dan beternak sapi perah.

Gua Maria Sawer Rahmat yang konon dibangun atas inisiatif penduduk setempat, terletak di sebuah bukit yang bernama Bukit Totombok, sebelah barat Desa Cisantana. Gua Maria Sawer Rahmat kini seakan-akan telah menjadi tempat keramat dan seringkali menjadi tempat prosesi keagamaan. Peresmian Gua Maria Sawer Rahmat ini dilakukan pada tanggal 21 Juli 1990 oleh Kardinal Tomko.

Untuk mencapai bukit tempat gua itu, sebenarnya tidak terlalu jauh dengan berjalan kaki dari desa di bawahnya. Umat Katolik menyebut perjalanan menuju gua itu sebagai "prosesi jalan salib", dan karena itu waktu tempuh memang terasa cukup lama. Mereka harus berhenti pada setiap tempat pemujaan di sepanjang jalan itu untuk memanjatkan doa sebelum sampai ke Gua Maria. Perjalanan sambil mengucapkan doa itu dilakukan untuk mengingatkan umat Katolik (atau Kristen pada umumnya) tentang perjalanan Yesus Kristus memanggul salib menuju Bukit Golgota atau Bukit Kalvari.

Di sekitar Gua Maria Sawer Rahmat terdapat sebuah taman indah yang dibentuk untuk menggambarkan Taman Getsemani, yang menurut kitab suci Kristen, di situlah Yesus Kristus ditangkap untuk diadili sebelum disalibkan. Taman ini berada pada tempat yang datar. Di tempat ini pula terdapat sebuah ruangan sederhana untuk misa atau pembukaan jalan salib. Semua tempat sangat terbuka, kecuali altar. Dijalan menuju Gua Maria itu, tidak ada tempat untuk berteduh, tetapi rimbunnya pohon dan semak di kiri dan di kanan jalan, cukup membuat suasana teduh. Pada musim hujan, para pengunjung dapat melihat dan menikmati indahnya bunga-bunga hutan bermekaran, suasana alami dan menarik.

Jalan salib di sini terdapat 16 tempat perhentian. Tiap-tiap perhentian mengisahkan riwayat Yesus, mulai dari ketika Dia dijatuhi hukuman hingga ia dimakamkan. Pada tiap perhentian itu pula dibangun altar yang digunakan umat untuk berdoa dan menyalakan lilin. Pada perhentian kedua belas, terdapat salib besar. Letaknya di Bukit Totombok yang merupakan lambang ketika Yesus wafat di kayu salib. Salib ini juga merupakan tanda menancap dan mengakarnya iman umat Katolik di tatar Sunda. Setelah melalui 14 perhentian, tibalah umat di Gua Maria Sawer Rahmat. Patung Bunda Maria berdiri tegak dan anggun pada sebuah gua yang di bawahnya mengalir air yang jernih. Air ini berasal dari sebuah curug (air terjun). Curug tersebut berada di kaki sebelah selatan bukit dan penduduk mengenalnya dengan Curug Sawer (jatuhnya air seperti yang "disawerkan"). Itu sebabnya, gua itu disebut Gua Maria Sawer Rahmat. Dalam perjalanan pulang, umat Katolik menuruni anak tangga yang terpisah dari perjalanan mendaki. Itu dimaksudkan agar umat yang telah selesai berdoa tidak mengganggu perjalanan ibadah peziarah yang baru datang.

Setiap malam Jumat Kliwon, atau Jumat Agung, di Gua Maria ini berlangsung acara Misa Suci. Pada upacara Jumat Agung itu, prosesi dimulai dengan upacara pembukaan di Taman Getsemani. Acara itu kemudian dilanjutkan dengan "kisah sengsara" melalui prosesi jalan salib. Lalu, penghormatan salib di salib besar berada di bukit itu, tabur bunga di Makam Yesus dan upacara komuni di Gua Maria. Acara ini biasanya terbuka untuk umum.

Di suatu lokasi, di tempat parkir terdapat sebuah pemakaman sederhana, sebagaimana pemakaman di desa-desa yang lain. Yang menarik adalah bentuk nisan yang beraneka ragam di makam tersebut. Di pemakaman itu terdapat nisan berbentuk salib, sebagaimana ciri khas makam umat Kristen, dan nisan berbentuk pipih lonjong, sebagaimana ciri khas nisan pada makam umat Islam. Pemakaman ini merupakan campuran umat Katolik dan umat Islam. Karena terletak di Bukit Totombok, penduduk setempat lebih mengenal Gua Maria Sawer Rahmat dengan Gua Maria Totombok.

Menurut cerita rakyat, bukit itu diberi nama Totombok karena daerah itu hampir tidak pernah mendatangkan keberuntungan jika dijadikan areal persawahan. Dengan kata lain, Totombok adalah bukit yang selalu menombok. Namun, dari bukit inilah orang dapat memandang lepas kota Kuningan dan sekitarnya.

IklanAsiN - ProductioN

Kisah Nyai Ratna Herang Dari Nusaherang Kuningan

Nyi Ratna Herang adalah seorang ronggeng termasyhur era 1920-an. Kecantikannya tiada duanya. Sayang, sebuah tragedi memilukan membuat sang ronggeng terbunuh. Mayatnya lalu dihanyutkan di sungai. Saat ditemukan, jasadnya lalu dikubur disisi sungai Cigede. Kini makamnya sering jadi obyek ngalap berkah. Padahal, tetua kampung di sana melarang keras siapapun yang menziarahinya. Mengapa?

Kisah sukses ronggeng termasyhur di era 1920-an ini masih terngiang hingga kini. Masyarakat Kuningan Jawa Barat, terutama kalangan pekerja seni, sangat tidak mudah melupakan namanya. Betapa tidak, dimasa jayanya Ratna adalah seorang perempuan cantik. Sebelum tragedi pilu itu terjadi, usianya baru 19 tahun. Rambutnya panjang tergerai, tubuhnya sungguh aduhai.

Dalam bahasa sunda, kecantikan semacam itu dikiaskan sebagai nu geulis ka wanti-wanti, endahna kabina-bina. Setiap ia tampil di atas panggung, dari ujung rambut hingga ujung kuku selalu jadi perhatian. Para jawara, kaum menak (bangsawan), sampai rakyat biasa, dibuat mabuk kepayang.

Nyi Ratna Herang memang seorang ronggeng berbakat. Ia tenar karena kemampuan, bukan sekadar cantik semata. Hampir tiap ada hajatan, perayaan atau pesta-pesta, orang selalu menggelar panggung dengan ronggeng Nyi Ratna Herang. Dan setiap Nyi Ratna Herang manggung, berbondong-bondong orang menjadi saksi. Jangankan kaum pria, para wanitapun banyak yang menyukainya. Kaum hawa selalu bermimpi parasnya bisa secantik Nyi Ratna.

Pada suatu perayaan, Nyi Ratna Herang diundang jadi bintang. Ketika itu hadir para jawara, kaum menak dan orang-orang kaya. Mereka berlomba-lomba ingin menari bersamanya. Tidak hanya itu, tak sedikit pula yang ingin mempersuntingnya menjadi istri. Namun, ada pantangan dari mucikari yang membesarkannya. Bahwa Nyi Ratna terikat perjanjian untuk tidak menjadi seorang istri sebelum satu hajatnya dicapai.

Otomatis, keinginan mempersunting Nyi Ratna Herang tinggal impian. Sayangnya, sisi lain predikat kaum ronggeng yang negatif ketika itu sudah terlanjur bersemi. Sebab selain memiliki suara yang indah, tarian bagus dan tubuh yang sempurna, para ronggeng ketika itu bisa diajak kencan. Bahkan siap bermain ranjang dengan siapa saja yang bersedia membayarnya.

Begitulah kisah negatif itu, sehingga menimpa Nyi Ratna Herang. Tak heran, setiap ada pesta yang menghadirkan Nyi Ratna Herang sebagai ronggeng, selalu saja terjadi keributan. Penyebabnya tiada lain, penonton ingin berlomba-lomba untuk bisa menari atau mem-bookingnya.

Suatu ketika, terjadi keributan antara dua orang jawara yang gandrung kepada Nyi Ratna. Mereka berebut ingin bercinta dengannya. Sebagai ksatria, mereka bersumpah siapa yang menang dalam pertarungan, maka dia yang berhak atas Nyi Ratna Herang. Akhirnya terjadilah pertarungan seru. Namun tidak ada seorang pun dari mereka keluar sebagai pemenang, karena keduanya sama kuat.

Terbunuh

Pertarungan memperebutkan Nyi Ratna Herang kali ini berbuah petaka. Nyi Ratna terluka parah. Luka itu membuatnya meninggal, tewas di tempat kejadian. Namun, sesaat sebelum Nyi Ratna Herang menghembuskan nafas terakhir, dari bibirnya yang mungil meluncur kata-kata kutukan.
"Di daerah ini, tidak akan ada perempuan yang secantik dirinya sampai umur 19 tahun", begitulah bunyi kutukannya.

Menurut orang-orang tua di sana, supata atau kata-kata bertuah itu mengandung arti tidak akan ada perempuan yang secantik dengan rambut panjang tergerai sampai usia 19 tahun di daerah itu. Makanya jangan heran bila di Ciherang, Kuningan Jawa Barat, sulit menemukan gadis cantik yang berusia 19 tahun ke bawah. Rata-rata mereka diungsikan oleh orang tuanya ke rumah saudaranya yang berada di luar Ciherang. Baru setelah usia mereka lewat dari 19 tahun, mereka kembali ke Ciherang. Kabarnya, hingga saat ini sudah 9 orang gadis cantik menjelang usia 19 tahun yang meninggal dunia. Mereka meninggal dengan berbagai cara, seperti menderita sakit baru kemudian meninggal.

Kembali ke cerita semula. Setelah Nyi Ratna Herang meninggal, mayatnya dihanyutkan di sungai Cigede. Sampai akhirnya jasad Nyi Ratna Herang ditemukan warga di Blok Pamujaan, Desa Ciherang. Mayat yang sudah rusak dan mengeluarkan bau itu dimakamkan di pinggir sungai, tak jauh dari tempat ditemukan. Penemuan mayat Nyi Ratna Herang cukup menggemparkan masyarakat. Maklum, dia seorang ronggeng tersohor.

Ngalap Berkah

Entah siapa yang memulai, sejak saat itu makamnya sering di ziarahi orang yang simpati kepadanya. Terutama dari kalangan seniman. Bahkan lambat laun tidak sedikit peziarah yang meminta sesuatu dari makamnya. Para seniman, pemilik grup kesenian ataupun ronggeng, antri menziarahi makamnya dan memohon agar dirinya bisa sukses.

Para ronggeng yang berziarah, memohon agar dirinya bisa tenar dan cantik seperti Nyi Ratna Herang. Bagi orang tua, memohon agar keturunannya bila wanita, diberi kecantikan seperti Nyi Ratna Herang.

Karena makamnya dijadikan tempat untuk meminta, lokasi di sekitar kuburan Nyi Ratna Herang menjadi tempat angker dan wingit. Tidak ada yang berani mendekati makamnya. Menurut beberapa pengakuan, dari sekitar makam Nyi Ratna Herang sering muncul Kembang Karang. Yakni anak kecil yang berkelebat bolak-balik di sekitar makam. Tapi bila orang melihat dan mengejarnya, bocah kecil ini menghilang begitu saja.

Menurut Aom Oking, tetua Desa Ciherang dan pemilik tanah tempat Nyi Ratna Herang dimakamkan, keberadaan Kembang Karang itu menunjukkan lokasi tersebut angker dan sakral. Dan benar saja lambat laun, lokasi kuburan Nyi Ratna Herang menjadi incaran para peziarah untuk memburu berkah.

Uniknya, kebanyakan para peziarah selalu mengambil batu-batu atau kerikil yang ada di atas kuburannya. Bahkan tidak jarang pula ada yang mengambil sejumput tanah untuk di bawa pulang. Konon, batu-batu itu akan dijadikan jimat. Sedangkan tanah yang diambil lalu ditaburkan didepan rumahnya. Saking banyaknya peziarah yang berperilaku demikian, kini makam Nyi Ratna Herang semakin gundul, karena batu dan tanahnya selalu dipungut peziarah.

IklanAsiN - ProductioN

Curug Bangkong Dan Mbah Wiria

Nama tempat terutama air terjun itu biasanya terinspirasi dari cerita-cerita yang beredar di masyarakat setempat, seperti Air Terjun Bidadari, Sri Gethuk, dan yang lainnya. Setali tiga uang dengan air terjun-air terjun itu, Curug atau Air Terjun Bangkong yang  berada di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang Kuningan Jawa Barat, ini juga terinspirasi dari hal yang sama.

Nah, menurut tutur dari mulut ke mulut, alkisah dulu ada orang tua yang bernama Wiria. Dia adalah  seorang pertapa yang sedang berkelana, yang berasal dari Ciamis.  Dalam perjalanannya  pertapa tua ini tidak sengaja menemukan sebuah air terjun atau curug. Setibanya di sana ia merasakan ada aura yang berbeda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan tirakatnya, lantas ia yakin pula bila di tempat itu  dirinya dapat melakukan ilafat.

Namanya juga manusia yang  perlu sosialisasi, di sela-sela tirakatnya itu, Wiria menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Ia lalu mengajarkan masyarakat lokal soal tata cara bagaimana membuat gula kawung (gula merah) yang bahan mentahnya banyak tumbuh di lingkungan sekitar. Dalam waktu singkat karena masyarakatnya antusias, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung dan akhirnya pekerjaan itu pun menjadi mata pencaharian penduduk sekitar.

Nama Wiria pun seiiring dengan itu menjelma menjadi Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan masyarakat kepadanya. Dalam perkembangannya Abah Wiria mendapat panggilan batin dan kembali  ke areal curug untuk tirakat. Dimana Abah Wiria melakukan semedinya tak ada yang tahu  karena Wiria melakukannya secara diam-diam.  Konon, menurut cerita yang ada Abah Wiria melakukan tapa bratanya  di balik air terjun.

Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana. Masyarakat kemudian merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini telah membimbingnya. Mereka bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Abah Wiria. Diduga kuat di gua itulah Abah Wiria melakukan semedinya dan Ini membuat warga desa bertanya-tanya.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke pelosok-pelosok desa. Warga mencarinya tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan. Ada sebagian warga yang meyakini bila Abah Wiria sudah meninggal di dalam curug. Sementara yang lain meragukannya lantaran jasadnya tak pernah ditemukan. Kabar yang paling santer adalah dugaan bila Abah Wiria menghilang karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa brata.

Macam-macam dugaan pun berkembang di dalam masyarakat, sampai-sampai muncul dugaan aneh soal Abah Wiria, banyak yang meyakini tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor bangkong (kodok). Pasalnya,  sepeninggal Abah Wiria di sekitar curug sering terdengar suara-suara kodok. Padahal selama ini sangat jarang warga di situ mendengar ada suara kodok disana. Anehnya, ketika suara kodok itu di dekati, tiba-tiba menghilang.

Atas dasar dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya, banyak orang yang mengikuti jejak Abah Wiria untuk bertapa di sekitar Curug Bangkong. Sehingga bila ada pendatang yang bermaksud melakukan tapa barata di sekitar curug, pasti akan disambut suara kodok. Nah bila itu yang terjadi, konon seseorang akan bernasib baik. Doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, tapi ya Wallahualam juga, benar atau tidaknya.

IklanAsiN - ProductioN

Curug Bangkong Yang Penuh Misteri

Di balik keindahannya Curug Bangkong memang penuh misteri, bagaimana tidak?
Dari asal muasalnya saja sudah mengundang misteri. Eh, ternyata banyak juga yang beranggapan bahwa air terjun ini tempat yang seram alias angker. Hal ini bermula dari anggapan orang-orang di masa lalu yang mengaitkannya dengan peristiwa ditemukannya orang mati di sana.

Mereka menganggap kematian itu sebagai tumbal keangkeran Curug yang terletak di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang, Kuningan Jawa Barat ini. Peristiwa itu sendiri terjadinya sudah sangat lama, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Ya di sekitar tahun 1944, saat itu ada seorang pemuda bernama Yoyo entah kenapa tewas di Curug Bangkong dan jasadnya tak pernah ditemukan sampai sekarang.

Nah, imbas dari tewasnya Yoyo itulah akhirnya para pengunjung Curug Bangkong dilarang mandi. Selang puluhan tahun kemudian, sekitar tahun 2002, juga ada pemuda yang meregang nyawa disana. Adalah Tatang (18), seorang pemuda mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di sekitar curug. Dari dua kejadian ini sangat membekas di dalam benak masyarakat dan kemudian menganggap air terjun itu sebagai tempat yang angker.

Di tahun tahun 1970 pernah terjadi peristiwa aneh, saat itu masyarakat melihat cahaya terang benderang yang melayang-layang di sekitar areal Curug Bangkong. Cahaya itu lantas mendarat dan menghilang di sebuah makam keramat yang ada di sana, yang ternyata itu adalah Makam Pangeran Arya Salingsingan.

Makam itu merupakan makam seorang Panglima Kerajaan Talaga, yang dipercaya sebagai salah satu penyiar syiar Islam di daerah Kuningan Barat. Beliau adalah seorang utusan Sunan Gunung Jati. Akan halnya lubang misterius yang ada di balik Curug Bangkong. Seorang Spiritualis Tatar Sunda pernah mengatakan adanya sebuah lubang setinggi 1 meter dengan lebar 0,8 meter. Letaknya persis di belakang sebelah kiri curug itu.

Dan konon pula panjang gua itu hampir 1 km (tepatnya 800 m). Sesepuh desa mengatakan ujung lubang itu tembus sampai ke Gunung Embun. Sangat terbukti bila debit air mencapai 5 meter kubik atau lebih, maka embun akan keluar dari lubang-lubang yang ada di sana.

Di tahun 1950-an, pernah ada orang yang penasaran akan kedalaman lubang tersebut. Sebagai uji coba, dimasukanlah seekor anjing yang di ikat tali ke dalam lubang itu. Setelah sekian lama di tunggu, tali kemudian ditarik. Ternyata anjing itu menghilang dan yang kembali hanya ikatan tali di leher si anjing tadi. Menurut cerita dari mulut ke mulut, konon anjing itu dimakan seekor ular sanca kembang yang panjangnya mencapai 15 meter dan badannya sebesar paha orang dewasa.

IklanAsiN - ProductioN

The Legend IV

Nokia 9110

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9210

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9210

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9300

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9300

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9500

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia 9500

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia E90

http://royiskanirai.stiforpid.com/

 Nokia E90

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia E7

http://royiskanirai.stiforpid.com/

Nokia E7

http://royiskanirai.stiforpid.com/


IklanAsiN - RoyDoanK
0838 7666 6338

The Legend III


http://royiskanirai.stiforpid.com/


http://royiskanirai.stiforpid.com/


http://royiskanirai.stiforpid.com/


http://royiskanirai.stiforpid.com/


http://royiskanirai.stiforpid.com/


http://royiskanirai.stiforpid.com/

IklanAsiN - RoyDoanK
0838 7666 6338